Batu merah delima ini umumnya dikenal dengan nama “Rubby Sapphire“. Batu ini berwarna merah gelap dan nampak seperti merah darah. Batu yang tersedia saat ini, berukuran lebih besar dari kacang tanah. Di Indonesia kalau kita berbicara tentang batu permata umumnya yang terbayang adalah dua hal yakni batu yang diyakini mempunyai tuah atau berlian. Jumlah batu permata yang ada di dunia mencapai ribuan jenis yang dibentuk dari unsur kimia tertentu berdasarkan ilmu geologi, tetapi diyakini ada pula batu yang disebut batu mustika yang konon berasal dari vegetasi, binatang dll. Bahkan sebagian besar orang di dunia ini masih meyakini bahwa batu permata dapat mempengaruhi pemakainya yang didasarkan hari kelahiran yang diimplementasikan pada bintang kelahiran, seperti ruby diyakini bagus bagi orang yang lahir pada bulan juli (Leo).. Disini akan kita ulas sedikit batu permata yang dikatakan sebagai rajanya dunia batu permata yaitu Ruby atau orang Indonesia ada yang menamakannya Batu Merah Delima. Untuk menentukan keaslian Batu Merah delima diyakini oleh sebagian orang adalah jika batu tersebut direndam dalam air, maka airnya akan berwarna merah darah bahkan air disekitarnya bisa nampak menjadi merah pula. Pada masa lampau Ruby digunakan sebagai pengobatan alternatif untuk penawar racun atau untuk meracuni,untuk menghindarkan orang dari wabah, untuk membuang duka cita, untuk menindas sikap sombong,dan untuk mengalihkan pikiran dari berfikir untuk berbuat jahat bahkan dapat mengubah logam jadi emas. (Sumber: Kamus Brewer’S). Bahkan sebagian orang mengatakan ruby dapat dipakai sebagai perantara akan cita-cita yang diinginkan, meramalkan nasib atau keberuntungan dalam spekulasi bisnis atau cinta terhadap seorang perempuan atau untuk menghilangkan sikap acuh tak acuh kekasihnya.

Batu Merah Delima Terindah Dipamerkan
Salah satu dari batu merah delima (ruby) terbesar dan paling indah akan dipamerkan untuk pertama kalinya Sabtu mendatang, sebagai bintang terbaru milik Koleksi Permata Nasional di National Museum of Natural History, AS.
Batu bernama Carmen Lucia sebesar 23,1 karat itu merupakan batu merah delima paling besar dan dipotong sangat indah, kata Jeffrey Post, seorang kurator koleksi permata, hari Selasa kemarin (12/10) di Washington.
Ditemukan di Myanmar –dahulu dikenal sebagai Burma– tahun 1930-an, batu itu memiliki potongan nyaris sempurna. Bila diputar, maka cahaya-cahaya yang dipantulkan dari sisi-sisinya seolah akan memancarkan kembang api dari kedalaman warnanya yang merah. Cincin platina berhiaskan berlian yang menjadi tempat bersemayam Carmen Lucia seakan menambah keindahannya.
Adapun batu merah delima Carmen Lucia didapatkan berkat dana yang disumbangkan pada museum oleh Dr. Peter Buck untuk mengenang istrinya yang kelahiran Brazil. Sayang harganya tidak disebutkan oleh Post. “Batu Carmen Lucia adalah permata yang amat elok yang tidak akan bisa dilihat banyak orang bila dimiliki perseorangan,” kata Post.
Batu ini memang tidak sebesar batu berlian Hope atau berlian-berlian terkenal lain, namun barangkali merupakan batu merah paling menarik yang ditemukan. Sinar berkilauan yang dipantulkan batu ini akan dengan cepat membuat orang terkesima, dan melupakan batu safir besar yang akan dipajang di sebelahnya.
Kedua jenis batu di atas –ruby dan safir– memang akan dipajang bersama karena mereka pada dasarnya berasal dari bahan sama yakni corundum atau oksida aluminium. Ruby mendapatkan warna merahnya dari unsur kromium, sedangkan unsur lain memberi warna biru pada safir.
Dikatakan Post, beberapa permata berwarna merah juga akan dipamerkan dengan label merah delima. Namun banyak di antaranya sebenarnya spinel, jenis batu lain yang berwarna merah. Bedanya, bila merah delima adalah oksida aluminium, maka spinel merupakan oksida magnesium aluminium. Spinel memang mirip mirah dan mendapat perhatian karena umumnya berwujud lebih besar dari merah delima.
(Kompas – AP/cnn.com/wsn)
06.23
WILHAM










0 komentar:
Posting Komentar